contact pa cilegon
contact pa cilegon

header website

Dilihat: 216

Mustopa2 Oleh :
ABDUL MUSTOPA, S.H.I., M.H.

PENERAPAN MENTORING PADA PROSES MEDIASI
(Makalah dibuat sebagai persyaratan mengikuti Champion Meeting di Bali)

 

Oleh : Abdul Mustopa, S.H.I., M.H
Wakil Ketua Pengadilan Agama Cilegon


A. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

 Perkembangan keberhasilan proses mediasi belakangan sangat pesat dengan ditandai banyaknya keberhasilan proses mediasi khususnya di Pengadilan. Namun tidak sedikit para pihak bingung setelah berdamai atau membuat kesepakatan perdamaian mereka akan melakukan apa dan bagaimana, sehingga butuh solusi terhadap masa depan dan keberlanjutan perdamaian tersebut.

Mediasi pada prinsipnya hanya mendamaikan kedua belah pihak yang bersengketa yang dibantu oleh mediator namun tidak menjangkau pada proses pasca mediasi dilakukan, untuk itu diperlukan fungsi mentoring dalam proses mediasi untuk menjamin langkah-langkah para pihak setelah melakukan perdamaian dengan cara mereka sendiri.

Di Pengadilan belum diterapkannya fungsi mentoring terhadap para pihak yang melakukan mediasi sehingga terkadang setelah para pihak melakukan perdamaian tidak lama kemudian para pihak kembali bersengketa dan kembali datang ke pengadilan untuk bersengketa atau menggugat pasangan atau pihak lawannya.

b. Rumusan

-          Efektifkah fungsi mentoring diterapkan dalam proses mediasi

-          Langkah-langkah Mentoring dalam proses mediasi

-          Penerapan mentoring dalam proses mediasi

c. Maksud dan Tujuan

-          Mengetahui seberapa efektif fungsi mentoring dalam proses mediasi

-          Mengetahui langkah-langkah mentoring dalam proses mediasi

-          Mengetahui bagaimana penerapan mentoring dalam proses mediasi

B. PEMBAHASAN

a. Perbedaan dan Persamaan Mediasi dan Mentoring

1. Mediasi

Mediasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai proses pengikutsertaan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan sebagai penasihat.[1] Kehadiran pihak ketiga dimaksudkan untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi sehingga dapat menemukan suatu solusi.

Mediasi berasal dari Bahasa Latin, yaitu mediare yang memiliki arti berada di tengah.[2] Pengertian ini lebih mengarah kepada fungsi dan peranan mediator yakni sebagai penengah antara dua orang atau lebih yang saling bersengketa oleh sebab itu, mediator harus mampu menjaga independensi serta menjaga diri dari keberpihakan kepada salah satu pihak agar menumbuhkan kepercayaan antara para pihak yang bersengketa.

Pengertian lainnya tentang mediasi adalah penyelesaian sengketa melalui cara perundingan/musyawarah mufakat para pihak dengan bantuan pihak netral (mediator) yang tidak memiliki kewenangan memutus dengan tujuan menghasilkan kesepakatan damai untuk mengakhiri sengketa.[3] Sistem kekeluargaan dalam penyelesaian sengketa merupakan arti lain dari mediasi.

Rahmadi Usman mendefinisikan kata mediasi berasal dari bahasa Inggris “mediation” yang artinya penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga sebagai penengah atau penyelesaian sengketa secara menengahi. Adapun orang yang menengahi disebut mediator atau orang yang menjadi penengah.[4] Peran pihak ketiga diharapkan mampu meredam sengketa dan menemukan solusi.

2. Mentoring

Mentoring berasal dari Bahasa Inggris yang diartikan sebagai pendampingan. Menurut Oxford Dictionary, mentoring adalah sebuah praktik untuk membantu dan menasihati orang yang kurang berpengalaman selama periode waktu tertentu, terutama sebagai bagian dari program resmi di suatu perusahaan, universitas, dan lain-lain.

Namun, dalam praktiknya, tujuan mentoring tidak sesederhana hanya melakukan pendampingan saja, tetapi juga menggunakan pendekatan tertentu yang lebih luas. Pendekatan ini diharapkan dapat membangun hubungan antara mentor dan mentee untuk waktu yang panjang.

Seorang mentor harus memiliki kekuatan dan pengaruh terhadap mentee serta memiliki pengetahuan yang luas, sehingga mampu mendampingi mentee mencapai tujuan karir yang diinginkan. Dalam hal ini bisa dikatakan, mentor Anda adalah penentu karir Anda.

Mentoring juga dapat didefinisikan sebagai hubungan timbal balik dan kolaboratif yang seringkali dilakukan oleh karyawan senior dan junior. Tujuan utamanya, untuk pertumbuhan, pembelajaran, dan pengembangan karir mentee yang berfokus pada tujuan perusahaan, budaya, dan nasihat tentang pengembangan profesionalisme.[5]

Beberapa studi menunjukkan bahwa mentoring dapat menengahi beberapa masalah yang dihadapi oleh para auditor di kantor akuntan publik, misalnya konflik peran, prestasi kerja, kepuasan kerja dan ketidakjelasan peran. Konflik peran timbul karena adanya dua ‘perintah’ yang berbeda yang di terima secara bersamaan dan pelaksanaan salah satu perintah saja akan mengakibatkan terabaikannya perintah yang lain. Seorang yang professional dalam pelaksanaan tugasnya, terutama ketika menghadapi suatu masalah tertentu, akan sering menerima dua perintah sekaligus. Perintah yang pertama datangnya dari kode etik profesi, sedangkan perintah yang kedua datangnya dari sistem pengendalian yang berlaku di perusahaan. Apabila seorang professional bertindak sesuai kode etiknya, maka ia akan merasa tidak berperan sebagai karyawan yang baik dalam perusahaan. Namun demikian bila ia bertindak sesuai dengan prosedur yang di tentukan perusahaan maka ia akan bertindak secara professional. Kondisi inilah yang disebut sebagai konflik peran (role conflict); suatu konflik yang timbul karena mekanisme pengendalian birokratis organisasi organisasi tidak sesuai dengan norma, 3 aturan, etika dan otonomi professional (wolfed an snoke 1962 dalam Swarima dan Amilin 2008).

Melihat pengertian diatas maka perbedaan dan permasaan antara Mentoring dan Mediasi adalah :

Persamaan :

-          Objeknya sama yaitu orang atau pihak

-          Sama-sama ada pendampingan

-          Sama-sama mencari solusi terhadap suatu permasalahan

Perbedaan :

-          Dalam Mediasi Para pihak harus berdua sedangkan Mentoring bisa satu orang

-          Timbul akibat sengketa, mentoring tidak selalu ada sengketa

-          Dalam Mediasi mediator mengarahkan pihak sesuai tahapan sedangkan dalam mentoring mentee lah yang berperan penuh pendamping hanya mengarahkan.

-          Dalam mediasi pendampingnya disebut Mediator sedangkan dalam mentoring pendampingnya disebut Mentor.

Melihat persamaan dan perbandingan diatas, apabila antara mediasi dan mentoring jika digabungkan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa, dalam proses mediasi mengutamakan bagaimana para pihak berdamai sedangkan dalam mentoring mengutamakan apa yang akan dilakukan pihak setelah melakukan perdamaian.

b. Efektifitas mentoring dalam proses Mediasi

Dalam menguji efektifitas mentoring dalam proses mediasi penulis telah mencoba melakukan mentoring pasca penandatanganan kesepakatan perdamaian di Pengadilan Agama Negara PTA Mataram, dari 24 perkara yang dicabut karena berhasil mediasi yang kembali mengajukan gugatan kepengadilan hanya 2 perkara.

Fungsi mentoring dalam proses mediasi sangatlah penting karena sangat menentukan langkah para pihak selanjutnya, seolah olah para pihak memiliki buku panduan hidup yang telah dibuat mereka sendiri, karena proses mentoring yang sangat berperan penting ada mentee bukan mentornya.

c. Tujuan Mentoring pada Proses Mediasi

-          Para Pihak memahami langkah apa yang akan diambil pasca perdamaian

-          Para Pihak sudah memiliki langkah strategis apa yang akan dilakukan pasca perdamaian, baik langkah jangka pendek atau jangka panjang.

-          Menghindari pihak kembali bersengketa dan mengajukan gugatan ke pengadilan karena sudah ada program yang dijalankan.

-          Mengekalkan keberhasilan mediasi.

d. Penerapan Mentoring dalam proses Mediasi

Mentoring dalam proses mediasi dilakukan setelah para pihak mendantangani kesepakatan perdamaian atau berdamai.

1)  Para pihak ditanyakan terhadap kesepakatan perdamaian tersebut langkah-langkah strategis apa yang akan diambil para pihak.

2)  Program jangka pendek dan jangka panjang nya apa setalah melakukan perdamaian.

3)  Apa yang harus dilakukan jika timbul sengketa kembali

Terhadap hasil mentoring tersebut harus tercatat sebagai panduan para pihak dalam menjalankan kesepakatan perdamaian atau panduan dalam mengambil langkah-langkah strategis pasca perdamaian.

C. KESIMPULAN

-       Mentoring sangat penting diterapkan dalam proses mediasi
-       Mentoring dalam proses mediasi memberikan perdamaian yang berkelanjutan.
-       Para Pihak mempunyai langkah-langkah strategis setelah menandatangani kesepakatan perdamaian.


[1]Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988), h. 569.

[2]Syahrizal Abbas, Mediasi (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 1-2.

[3]Takdir Rahmadi, Mediasi, disampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi Mediator, Bogor: 11 Juli 2013.

[4]Rahmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar pengadilan (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), h. 79.

[5] Dapat dilihat di https://www.qubisa.com/article/pengertian-mentoring-mentor-dan-mentee, dikutip pada tanggal 25 Nopember 2021

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Cilegon

Kompleks Perkantoran Sukmajaya Mandiri, Jalan Jenderal Ahmad Yani Kav.5, Sukmajaya, Kec. Jombang, Kota Cilegon, Banten 42411

Telepon : (0254) 382829

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Sosial Media

youtube  facebook  instagram

 

@Copyright Pengadilan Agama Cilegon 2020