contact pa cilegon
contact pa cilegon

header website

Dilihat: 2935

Mustopa2 Oleh :
ABDUL MUSTOPA, SHI, MH

{sumber}
</br>
{/sumber}

METODE IJTIHAD ATAU ISTINBATH AL-HUKM

DAN USHUL FIQH DALAM ISLAH (MEDIASI)

Oleh : Abdul Mustopa, SHI, MH

(Wakil Ketua Pengadilan Agama Cilegon)

Abstraksi

Islah menurut pandangan ushul figh yang mengunakan metode pendekatan Maslahah mursalah sebagai metode hukum yang mempertimbangkan adanya kemanfaatan yang mempunyai akses secara umum dan kepentingan tidak terbatas, tidak terikat. Dengan kata lain maslahah mursalah merupakan kepentingan yang diputuskan bebas, namun tetap terikat pada konsep syari’ah yang mendasar. Karena syari’ah sendiri ditunjuk untuk memberikan kemanfaatan kepada masyarakat secara umum dan berfungsi untuk memberikan kemanfaatan dan mencegah kemazdaratan (kerusakan).

A. LATAR BELAKANG

Islah atau lebih sering dikenal dengan mediasi di dunia peradilan yang merupakan salah satu proses penyelesaian sengketa yang cukup menarik perhatian belakangan ini, Islah sudah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad Saw bahkan Rasulullah Saw pernah melakukan mediasi itu sendiri. Untuk lebih memperjelas bahasan Islah atau mediasi kita harus melihat apa istimbath al-hukm nya dan kaidah ushul fiqh yang paling tepat digunakan dalam membahas islah atau mediasi tersebut.

Dalam al-quran penyelesaian konflik melalui pendekatan non litigasi menggunakn konsep al-sulh atau ishlah (damai). Sangat menarik untuk dibahas dikarenakan dalam fiqh mediasi sering juga disebut islah, dari berbagai pengertian apakah penggunakan kata islah lebih tepat dibandingkan dengan penggunaan kata as-sulh walaupun kedua Bahasa tersebut sinonim lantas apa perbedaan diantara keduanya. Metode istinbath al-Ahkam apa yang gunakan dalam islah serta kaidah Fiqh atau Ushul Fiqih apa yang digunakan dalam islah ini.

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Mengetahui metode Istinbath al-Ahkam yang digunakan dalam islah/perdamaian;
  2. Mengetahui kaidah Fiqih dan atau Ushul Fiqih yang digunakan dalam islah/perdamaian;

C. PEMBAHASAN

Istilah mediasi dalam Islam disebut dengan al- shulhu (  الصلح ) shulhu yang berasal dari bahasa Arab yaitu al- shulhu yang berarti memutus perselisihan.[1] Menurut Sayyid Sabiq, sulhu adalah suatu bentuk akad untuk nengakhiri perselisihan antara dua orang yang berlawanan. [2] Masing-masing pihak pelaku akad dinamakan musalih, persoalan perselisihan dinamakan musalah 'anhu dan hal yang diberlakukan dalam solusi perselisihan itu dinamakan musalah 'alaihi.

Secara istilah (Syara’) ulama mendefinisikan shulhusebagai berikut:

  1.  Menurut Taqiy al- Din Abu Bakar Ibnu Muhammad al- Husaini

العَقْدُ الَّذِىْ يَنْقَطِعُ بِهِ خُصُوْمَةُ المُتَخَاصِمَيْنِ

Artinya: “ Akad yang memutuskan perselisihan dua pihak yang bertengkar (berselisih)”

  1. Hasby Ash- Siddiqie dalam bukunya Pengantar Fiqih Muamalah berpendapat bahwa yang dimaksud al- Shulh adalah:

عَقْدُ يَتَّفِقُ فِيْهِ المُتَنَازِ عَانِ فِي حَقِّ عَلَى مَا يَرْتَفِعُ بِهِ النِّزَاعِ

“Akad yang disepakati  dua orang yang bertengkar dalam hak untuk melaksanakan sesuatu, dengan akad itu dapat hilang perselisihan”.

  1. Sayyid Sabiq berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al –Shulhu  adalah suatu jenis akad untuk mengakhiri perlawanan antara dua orang yang berlawanan.

                                   

Dari beberapa definisi di atas maka dapat di simpulkan bahwa “Shulhu adalah suatu usaha untuk mendamaikan dua pihak yang berselisihan, bertengkar, saling dendam, dan bermusuhan dalam mempertahankan hak, dengan usaha tersebut dapat di harapkan akan berakhir perselisihan”. Dengan kata lain, sebagai mana yang di ungkapkan oleh Wahbah Zulhaily shulhu adalah ”akad untuk mengakhiri semua bentuk pertengkaran atau perselisihan”

Dasar hukum sulhu ini terdapat di dalam al-Qur'an, yaitu QS al-Hujurat/49: 9 dan 10, juga hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, yakni:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اَلصُّلْحُ جَا ئِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ اِلا صُلْحًا حَرَّمَ حَلالً اَوْ اَحَلَّ حَرَامًا.[3] رواه ابو داود

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami (al-Hasan ibn Ali al-Khallal), telah menceritakan kepada kami (Abu Amir al 'Aqad), telah menceritakan kepada kami (Kasir ibn ‘Abdullah ibn Amru ibn 'Auf al Muzani) dari (ayahnya) dari (kakeknya) bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Perjanjian damai antara orang-orang muslim itu diperbolehkan, kecuali perjanjian menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.”

Anjuran perdamaian ini juga pernah disampaikan oleh khalifah Umar r.a. yang menyuruh untuk menolak permusuhan dengan perdamaian dikarenakan pemutusan perkara melalui pengadilan hanya akan menimbulkan kedengkian.[4] Kedengkian tersebut dimaksudkan karena putusan belum tentu menguntungkan kedua belah pihak. Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa sulhu merupakan suatu bentuk upaya damai yang dilakukan oleh orang-orang yang bersengketa yang dilakukan di luar pengadilan dengan persyaratan adanya orang yang bersengketa dan sesuatu yang disengketakan.

Macam-macam sulhu, sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Sabiq yang membaginya dalam 3 macam, yaitu: [5]

  1. Sulhu ikrar, yaitu seseorang mendakwa pihak lain atas adanya utang atau barang atau manfaat.
  2. Sulhu inkar, yaitu seseorang menggugat orang lain tentang suatu barang atau utang atau manfaat kemudian tergugat mengingkari apa yang digugatkan padanya, lalu mereka ber-sulhu.
  3. Sulhu sukut, yaitu seseorang menggugat orang lain tentang sesuatu lalu orang yang digugat berdiam diri, berarti ia tidak mengakui dan tidak mengingkari.

Al-Qurían sebagai sumber hukum Islam telah mengatur cara-cara menangani sengketa di dalam hubungan antarmanusia. Penyelesaian sengketa itu dilakukan untuk menegakkan keadilan yang ditangani melalui lembaga peradilan (al-qadha) dan di luar pengadilan (out of court settlement). Konsep-konsep seperti hakam (arbiter atau mediator) dalam mekanisme tahkim dan al-sulhu atau islah (damai), merupakan konsep yang dijelaskan di dalam al-Qurían sebagai media di dalam menyelesaikan konflik di luar pengadilan. Demikian pula dalam literatur hukum, dikenal dua pendekatan yang sering digunakan untuk menyelesaikan sengketa.

Pendekatan pertama, menggunakan model penyelesaian sengketa melalui pengadilan, yaitu pendekatan untuk mendapatkan keadilan dan menggunakan paksaan (coersion) untuk mengelola sengketa yang timbul dalam masyarakat serta menghasilkan suatu keputusan win-lose solution bagi pihak-pihak yang bersengketa (Auerbach, J.S. Justice, 1983: 67).

Sedangkan pendekatan kedua, menggunakan model penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Model ini dalam mencapai keadilan lebih mengutamakan pendekatan ëkonsensusí dan berusaha mempertemukan kepentingan pihak-pihak yang bersengketa serta bertujuan mendapatkan hasil penyelesaian sengketa ke arah win-win solution. (Galanter, 1981: 66). Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sudah dipraktikkan dalam badan peradilan Agama di Indonesia untuk menyelesaikan sengketa.

Bentuk penyelesaian sengketa di luar Pengadilan Agama yang sekarang dipraktikkan terintegrasi dengan proses peradilan, dan dinamakan dengan mediasi. Mediasi merupakan salah satu upaya penyelesaian sengketa dimana para pihak yang berselisih atau bersengketa bersepakat untuk menghadirkan pihak ketiga yang independen guna bertindak sebagai mediator (penengah).

Secara teoritis, penyelesaian sengketa di luar pengadilan melalui mediasi dipandang memiliki berbagai keuntungan yaitu:

  1. Untuk mengurangi kemacetan dan penumpukan perkara (court congestion) di pengadilan. Banyaknya kasus yang diajukan ke pengadilan menyebabkan proses berperkara seringkali berkepanjangan dan memakan biaya yang tinggi serta sering memberikan hasil yang kurang memuaskan;
  2. Untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat (desentralisasi hukum) atau memberdayakan pihak-pihak yang bersengketa dalam proses penyelesaian sengketa;
  3. Untuk memperlancar jalur keadilan (acces to justice) di masyarakat;
  4. Untuk memberi kesempatan bagi tercapainya penyelesaian sengketa yang menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak sehingga para pihak tidak menempuh upaya banding dan kasasi;
  5. Penyelesaian perkara lebih cepat dan biaya murah;
  6. Bersifat tertutup/rahasia (confidential);
  7. Lebih tinggi tingkat kemungkinan untuk melaksanakan kesepakatan, sehingga hubungan pihak-pihak bersengketa di masa depan masih dimungkinkan terjalin dengan baik (Santosa, 1999: 5).

Secara yuridis, praktik mediasi di lembaga peradilan direkonstruksi dari pasal 130 HIR/ Pasal 154 RBg yang mengenal upaya damai atau dading. Selain dalam HIR/RBg, diatur pula dalam UU No. 1 tahun 1974 Pasal 39, UU No. 3 tahun 2006 Pasal 65, KHI Pasal 115, 131 (2), 143 (1-2), 144, dan PP No. 9 tahun 1975 Pasal 32. Pengaturan mediasi diatur kembali melalui Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Mediasi dan diubah melalui Perma Nomor 1 Tahun 2016 tentang Mediasi.

Penyelesaian sengketa di pengadilan merupakan upaya terkahir apabila proses perdamaian di luar pengadilan mengalami jalan buntu, meski demikian dalam proses beracara di pengadilan pun tetap upaya damai menjadi proses yang ditawarkan dan menjadi keharusan untuk dilakukan. Tujuan utama penyelesaian sengketa dengan proses mediasi atau perdamaian semata-mata untuk menghasilkan kemaslahatan antara kedua belah pihak yang bersengketa sehingga diperoleh keuntungan dan kemanfaatan dan kemaslahatan yang sama bukan lagi masalah menang dan kalah dan bukan benar dan salah.

Tujuan dari proses mediasi sebagai upaya perdamaian anatara kedua belah pihak yang bersengketa yaitu untuk mendapatkan kemaslahatan dan menghindari kemadaratan. Oleh karena itu metode Ijtihad atau istinbath al-hukm menggunakan metode maslahah mursalah.

Di dalam al-quran penyelesaian konflik melalui pendekatan non litigasi menggunakn konsep al-sulh atau ishlah (damai). Konsep-konsep seperti hakam (arbiter atau mediator) dalam mekanisme tahkim dan al-sulh atau ishlah (damai), merupakan konsep yang dijelaskan di dalam al-Quran sebagai media di dalam menyelesaikan konflik di luar pengadilan.           

Secara bahasa, akar kata ishlah berasal dari lafazh "صلح – يصلح – "صلاحا yang berarti “baik”, yang mengalami perubahan bentuk. Kata ishlah merupakan bentuk mashdar mengikuti wazan افعال yaitu dari lafadh اصلح-يصلح-اصلاحا yang berarti memperbaiki, memperbagus, dan mendamaikan, (penyelesaian pertikaian). Kata صلاح   merupakan lawan kata dari فساد/سيئة (rusak). Sementara kata اصلح biasanya secara khusus digunakan untuk menghilangkan persengketaan yang terjadi di kalangan manusia. Akan tetapi, jika ishlãh dilakukan oleh Allah pada manusia, maka إصلاح Allah mengandung beberapa pengertian, kadang-kadang dilakukan dengan melalui proses penciptaan yang sempurna, kadang- kadang dengan menghilangkan suatu kejelekan/kerusakan setelah keberadaannya, dan kadang-kadang pula dengan menetapkan kebaikan kepada manusia itu sendiri melalui penegakan hukum (aturan) terhadapnya.[6]

Ibn Manzhur berpendapat bahwa kata ishlahan sebagai antonim dari kata fasad biasanya mengindikasikan rehabilitasi setelah terjadi kerusakan, sehingga terkadang dapat dimaknai dengan iqamah.[7] Sementara Ibrahim Madkur dalam mu’jamnya berpendapat bahwa ishlah yang berasal dari kata ishlah mengandung dua makna, yaitu manfaat dan keserasian serta terhindar dari kerusakan, sehingga jika kata tersebut mendapat imbuhan menjadi seperti frase إصلاح بينهما maka berarti menghilangkan segala sifat permusuhan dan pertikaian antara kedua belah pihak. Dengan demikian, إصلاح berarti menghilangkan dan menghentikan segala bentuk permusuhan dan pertikaian.[8]

Secara istilah, term ishlah dapat diartikan sebagai perbuatan terpuji dalam kaitannya dengan perilaku manusia.[9] Karena itu, dalam terminologi Islam secara umum, ishlah dapat diartikan sebagai suatu aktifitas yang ingin membawa perubahan dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang baik. Dengan kata lain, perbuatan baik lawan dari perbuatan jelek. Abd Salam menyatakan bahwa makna shalaha yaitu memperbaiki semua amal perbuatannya dan segala urusannya.[10]

Dalam perspektif tafsir, al-Thabarsi dan al-Zamakhsyari dalam tafsirnya berpendapat, bahwa kata ishlah mempunyai arti mengkondisikan sesuatu pada keadaan yang lurus dan mengembalikan fungsinya untuk dimanfaatkan.[11] Kata ishlah juga memiliki beberapa sinonim, di antaranya adalah tajdĩd (pembaruan) dan taghyir (perubahan), yang keduanya mengarah pada kemajuan dan perbaikan keadaan.[12]

Sementara menurut ulama fikih, kata ishlah diartikan sebagai perdamaian, yakni suatu perjanjian yang ditetapkan untuk menghilangkan persengketaan di antara manusia yang bertikai, baik individu maupun kelompok.[13] Sejalan dengan definisi di atas, Hasan Sadily menyatakan bahwa ishlah merupakan bentuk persoalan di antara para pihak yang bersangkutan untuk melakukan penyelesaian pertikaian dengan jalan baik-baik dan damai, yang dapat berguna dalam keluarga, pengadilan, peperangan dan lain-lain.[14]

Sayid Sabiq (1336 H – 1421 H) menerangkan bahwa ishlah merupakan suatu jenis akad untuk mengakhiri permusuhan antara dua orang yang sedang bermusuhan. Selanjutnya ia menyebut pihak yang bersengketa dan sedang mengadakan ishlah tersebut dengan Mushalih, adapun hal yang diperselisihkan disebut dengan Mushalih 'anh, dan hal yang dilakukan oleh masing-masing pihak terhadap pihak lain untuk memutus perselisihan disebut dengan Mushalih 'alaih.[15]

Keterangan di atas dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa, meskipun kata ishlah dan kata shulh merupakan sinonim, namun kata ishlah lebih menekankan arti suatu proses perdamaian antara dua pihak. Sedangkan kata shulh lebih menekankan arti hasil dari proses ishlah tersebut yaitu berupa shulh (perdamaian/kedamaian). Dapat juga dinyatakan bahwa ishlah mengisyaratkan diperlukannya pihak ketiga sebagai perantara atau mediator dalam penyelesaian konflik tersebut. Sementara dalam shulh tidak mengisyaratkan diperlukannya mediator.

Teori Ishlah bersumber dari al-Quran. Ishlah disebut dalam beberapa ayat di dalam al-quran sebagai berikut:

  1. Ishlah antar sesama muslim yang bertikai dan antara pemberontak (muslim) dan pemerintah (muslim) yang adil; Q.S. al-Hujurat:9-10.
  2. Ishlah antara suami-isteri yang di ambang perceraian; dengan mengutus al- hakam (juru runding) dari kedua belah pihak; Q.S. al-Nisa:35. dan lain-lain.
  3. Ishlah memiliki nilai yang sangat luhur dalam pandangan Allah, yaitu pelakunya memperoleh pahala yang besar (al-Nisa 114)
  4. Ishlah itu baik, terutama ishlah dalam sengketa rumah tangga (an-nisa: 128)

Namun ayat yang khusus dijadikan kajian dalam teori ishlah ini berangkat dari ishlah antara sesama muslim yang bersumber dari al-Quran surat al-Hujurat ayat 9 dan 10:

﴿ وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ٩ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ ١٠ ﴾

Terjemahnya:

Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. 10. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

Serta hadist Rasulullah SAW:

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ العَقَدِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ المُزَنِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ المُسْلِمِينَ، إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا، وَالمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا»: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ[16]

Artinya:

Meriwayatkan hadits kepada kami Abu Amir al- Aqdi, dari Katsir bin Abdullah bin „Amr bin Auf al-Muzni, dari ayahnya, dari ayah-ayahnya (kakeknya), dari Rasulullah SAW bersabda: al-Sulh itu jaiz (boleh) antara (bagi) umat Islam, kecuali sulh yang mengharamkan yang halal atau sebaliknya (menghalalkan yang haram). Dan umat Islam boleh berdamai (dengan orang   kafir)   dengan   syarat   yang   mereka   ajukan,   kecuali   syarat   yang mengharamkan yang halal atau sebaliknya.” Abu Isa berpendapat bahwa Hadits ini tergolong Hasan-Shoheh.

Dua ayat di dalam surat al-Hujurat dan hadis di atas merupakan landasan di dalam penyelesaian konflik dan perselisihan. Dalam hadis tersebut dinyatakan bahwa menyelesaikan konflik dengan perdamaian adalah boleh dan sangat dianjurkan untuk kebaikan dan keutuhan persaudaraan sesama muslim asalkan tidak untuk menghalalkan yang haram dan sebaliknya tidak mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Ishlah dalam Islam merupakan prinsip dalam pergaulan, sebagaimana ditegaskan al-Qur’an dalam surat al-Nisa: 114; “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian (ishlah) di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”

Ishlah merupakan sebab untuk mencegah suatu perselisihan dan memutuskan suatu pertentangan dan pertikaian. Pertejntangan itu apabila berkepanjangan akan mendatangkan kehancuran, untuk itu maka ishlah mencegah hal-hal yang menyebabkan kehancuran dan menghilangkan hal-hal yang membangkitkan fitnah dan pertentangan dan yang menimbulkan sebab-sebab serta menguatkannya dengan persatuan dan persetujuan, hal itu merupakan suatu kebaikan yang dianjurkan oleh syara.[17]

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan sebuah perdamaian adalah untuk mengakhiri suatu persengketaan/perkara yang sedang berjalan atau mencegah timbulnya suatu perselisihan.

Mengupayakan perdamaian bagi semua muslim yang sedang mengalami konflik, perselisihan dan pertengkaran dinilai ibadah oleh Allah. Namun tidak dianjurkan perdamaian dilakukan dengan paksaan perdamaian harus karena kesepakatan para pihak. Dalam hal ini Imam Malik pernah berkata bahwa dia tidak sependapat jika hakim memaksa salah satu pihak yang berperkara atau mengenyampingkan permusuhan salah satu pihak, karena semata-mata hanya menginginkan perdamaian.[18]

Dengan demikian, ishlah merupakan cara yang ditetapkan oleh al-Quran untuk mencari penyelesaian konflik, ketegangan, sengketa dan perselisihan. Penegasan ini dijelaskan oleh al-Quran surat al-hujurat ayat 9 dan 10. Oleh karena itu, islah dipandang sebagai norma dasar yang ditetapkan al-Quran untuk mencari penyelesaian konflik dan sengketa. Sebagai norma dasar penyelesaian konflik, di dalam konsep ishlah tidak dijelaskan mengenai kriteria mushlih (mediator) dan teknis penyelesain konflik.

Dalam literatur klasik Islam dinyatakan bahwa hadirnya juru damai merupakan salah satu syarat keberhasilan proses ishlah. Kriteria seorang mushlih adalah taqwa, khauf, kharismatik, faqih dan memahami masalah yang menjadi sumber konflik. Kriteria ini sifatnya taaqquli, yang dewasa ini dapat dimaknai dengan seorang juru runding yang professional. Walupun demikian, kriteria mushlih di atas harus dipertimbangkan karena kriteria tersebut menunjukkan kharisma dan kewibawaan seoarang juru damai.[19]

D. KESIMPULAN

Di dalam al-quran penyelesaian konflik melalui pendekatan non litigasi menggunakn konsep al-sulh atau ishlah (damai). Konsep-konsep seperti hakam (arbiter atau mediator) dalam mekanisme tahkim dan al-sulh atau ishlah (damai), merupakan konsep yang dijelaskan di dalam al-Quran sebagai media di dalam menyelesaikan konflik di luar pengadilan.

Tujuan dari proses islah sebagai upaya perdamaian anatara kedua belah pihak yang bersengketa yaitu untuk mendapatkan kemaslahatan dan menghindari kemadaratan. Oleh karena itu metode Ijtihad atau istinbath al-hukm menggunakan metode maslahah mursalah.

Maslahah mursalah sebagai metode hukum yang mempertimbangkan adanya kemanfaatan yang mempunyai akses secara umum dan kepentingan tidak terbatas, tidak terikat. Dengan kata lain maslahah mursalah merupakan kepentingan yang diputuskan bebas, namun tetap terikat pada konsep syari’ah yang mendasar. Karena syari’ah sendiri ditunjuk untuk memberikan kemanfaatan kepada masyarakat secara umum dan berfungsi untuk memberikan kemanfaatan dan mencegah kemazdaratan (kerusakan).


DAFTAR PUSTAKA

-       Abd Salam, Mu’jam al-Wasĩth, (Teheran: Maktabat al-Ilmiyah, t.th), Jil. I.

-       Abu Muhammad Mahmud Ibn Ahmad al-Aynayni, al-Bidãyah fi Syarh al-hidãyah, (Beirut: Dar al- Fikr, t,th), Jil. 9.

-       Abu Ali al-Fadl ibn al-Hasan at-Thabarsi, Majma’ al-Bayãn fĩ tafsĩr al-qur’an, (Beirut: Dar al- Ma‟rifah, 1986), cet I, Jil. I, II.

-       Abu al-Qasim Jarullãhi Mahmũd ibn Umar ibn Muhammad al-Zamakhsyari, Tafsir al-Kasysyãf, (Beirut: Dar al-Kutub al-ilmiyah, 1995), cet. I, Jil. I.

-       Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Juz 1 (Beirut: Dar al-Kutub, 1996).

-       Al- Rãghib al-Ashfahani, al-Mufradãt fĩ Gharĩb al-Qur‟an, (Beirut: Dar al-Ma‟rifah, t.t),

-       Alauddin at Tharablisi, Muin Al Hukkam: Fi ma yataraddadu baina al khasamaini min al Ahkami,(Beirut : Dar al Fikr, t.t.)

-       van Donzel, B. Lewis, dkk (ed), Encyclopedia of Islam, (Leiden: E.J. Brill, 1990), Jil. IV.

-       Hassan Sadyli dkk, Ensikolopedi Indonesia, (Jakarta: Ichtiar baru – Van Hoeve, 1982)

-       Ibn Manzhũr, Lisãn al-'Arab, (Mesir: al-Dãr al-Mishriyyah Lita‟lĩf wa al-Tarjamah, t.th), Jil. 3-4.

-       Ibrãhĩm Madkũr, al-Mu’jam al-Wajiz, (tp., t.th), h. 368. Lihat juga Ahmad Athiyyatullah, al-Qãmũs al-Islãmi, (Mesir: Makhtabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1076), Jilid 4.

-       John O. Voll, Renewal and Reform in Islamic History: Tajdid and Ishlãh dalam John L. Esposito,

-       Muhammad al-Qurtubhi, al-Jami’ li ahkam al-Quran. (Beirut: Dar el-Fikr, 2003). Juz 16..

-       Muhammad bin Isa bin Saurah al-Tirmidhy, Sunan al-Tirmidhy, (Mesir: Mustofa al-Babi al-Halby, 1975), Juz II.

-       Salam Mazkur, Peradilan dalam Islam, Alih Bahasa Drs Imron AM. (Surabaya: Bina Ilmu, 1993).

-       Sayid Sabiq, Fiqh al- Sunnah, (Beirut:Dar el-Fikr, 1988), jil. Ke-3.

-       Sayyid Sabiq, Al-Fiqh As-Sunnah, Jilid II (Kairo, Dar al-Fath, 1990)

-       Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid 4

-       Voices of Resurgent, (New York: Oxford University Press, 1983)

 


[1]Sayyid Sabiq, Al-Fiqh As-Sunnah, Jilid II (Kairo, Dar al-Fath, 1990), h. 327.

[2]Sayyid Sabiq, Al-Fiqh As-Sunnah, Jilid II, h. 327.

[3]Abu> Da>wud, Sunan Abu Dawud, Juz 1 (Beirut: Dar al-Kutub, 1996), h. 224.

[4]Sayyid Sabiq, Al-Fiqh As-Sunnah, Jilid II, h. 327.

[5]Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid 4, h. 331-332.

[6] Al- Rãghib al-Ashfahani, al-Mufradãt fĩ Gharĩb al-Qur‟an, (Beirut: Dar al-Ma‟rifah, t.t), 284-285.

[7] Ibn Manzhũr, Lisãn al-'Arab, (Mesir: al-Dãr al-Mishriyyah Lita‟lĩf wa al-Tarjamah, t.th), Jil. 3-4, 348-349.

[8] Ibrãhĩm Madkũr, al-Mu’jam al-Wajiz, (tp., t.th), h. 368. Lihat juga Ahmad Athiyyatullah, al-Qãmũs al-Islãmi, (Mesir: Makhtabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1076), Jilid 4, 321.

[9] E. van Donzel, B. Lewis, dkk (ed), Encyclopedia of Islam, (Leiden: E.J. Brill, 1990), Jil. IV, 141.

[10] Abd Salam, Mu’jam al-Wasĩth, (Teheran: Maktabat al-Ilmiyah, t.th), Jil. I, 522.

[11] Abu Ali al-Fadl ibn al-Hasan at-Thabarsi, Majma’ al-Bayãn fĩ tafsĩr al-qur’an, (Beirut: Dar al- Ma‟rifah, 1986), cet I, Jil. I, II, h. 137. Lihat juga Abu al-Qasim Jarullãhi Mahmũd ibn Umar ibn Muhammad al-Zamakhsyari, Tafsir al-Kasysyãf, (Beirut: Dar al-Kutub al-ilmiyah, 1995), cet. I, Jil. I, h. 70.

[12] John O. Voll, Renewal and Reform in Islamic History: Tajdid and Ishlãh dalam John L. Esposito,

Voices of Resurgent, (New York: Oxford University Press, 1983), 32-42.

[13] Abu Muhammad Mahmud Ibn Ahmad al-Aynayni, al-Bidãyah fi Syarh al-hidãyah, (Beirut: Dar al- Fikr, t,th), Jil. 9, 3.

[14] Hassan Sadyli dkk, Ensikolopedi Indonesia, (Jakarta: Ichtiar baru – Van Hoeve, 1982), 1496.

[15] Sayid Sabiq, Fiqh al- Sunnah, (Beirut:Dar el-Fikr, 1988), jil. Ke-3, 189

[16] Muhammad bin Isa bin Saurah al-Tirmidhy, Sunan al-Tirmidhy, (Mesir: Mustofa al-Babi al-Halby, 1975), Juz II, 626.

[17] Alauddin at Tharablisi, Muin Al Hukkam: Fi ma yataraddadu baina al khasamaini min al Ahkami,(Beirut : Dar al Fikr, t.t.), 123.

[18] Salam Mazkur, Peradilan dalam Islam, Alih Bahasa Drs Imron AM. (Surabaya: Bina Ilmu, 1993) 19-20.

[19] Muhammad al-Qurtubhi, al-Jami' li ahkam al-Quran . (Beirut: Dar el-Fikr, 2003). Juz 16, hlm. 323.

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Cilegon

Kompleks Perkantoran Sukmajaya Mandiri, Jalan Jenderal Ahmad Yani Kav.5, Sukmajaya, Kec. Jombang, Kota Cilegon, Banten 42411

Telepon : (0254) 382829

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Sosial Media

youtube  facebook  instagram

 

@Copyright Pengadilan Agama Cilegon 2020